REVIEW FILM "SANG KIAI"
Film "Sang Kiai" bercerita tentang awal mula kedatangan Jepang di Indonesia yang menghancurkan kehidupan masyarakat adat dan membuat pulau-pulau semakin miskin. Banyak cara yang ditempuh Jepang untuk menarik simpati masyarakat, salah satunya melalui agama. Film ini bercerita tentang seorang pemuka agama yang merupakan tokoh yang disegani dengan pengikut yang banyak, yaitu KH Hasyim Asyari. Ia juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang dan Nahdhatul Ulama. Antusiasme dan kebahagiaan rakyat Jepang memungkinkan Jepang datang lebih awal dan membebaskan Indonesia dari belenggu Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, Jepang mulai menunjukkan sifat rakusnya dalam upaya menguasai kekayaan alam nusantara.
Hingga suatu ketika, Kyai dituduh menghasut masyarakat, menyebabkan kerusuhan di pabrik Cukir hingga ditangkap oleh Jepang. Dia berkata bahwa dia setuju untuk menampilkan Seikere, sebuah upacara yang dilakukan oleh tentara Jepang dengan menyembah dewa matahari. Tapi dia menolak perintah itu. Melihat Kyai diperlakukan kejam dari Jepang, murid-murid tebu Ireng berbondong-bondong ke markas Jepang, meski tidak mendapatkan hasil yang sebenarnya. Jepang berada dalam tekanan hingga akhirnya memutuskan untuk memindahkan KH Hasyim Asyari ke Mojokerto.
Wahid Hasyim dan para pemimpin agama memulai jalur diplomatik. Mereka mengadakan pertemuan untuk membahas strategi melawan Jepang dengan berpura-pura mendukung Jepang dan menggunakan fasilitas Jepang, dan membentuk panitia untuk membela Ulama NU yang ditangkap Jepang. Dengan bantuan A. Hamid Ono, pejabat Jepang memutuskan untuk melepaskan semua Kyai yang ditangkap. Pada 7 Desember 1942, di Batavia, Jepang, semua Kaye berkumpul di Jawa. Hingga Oktober 1943, Jepang membubarkan MIAI dan menyiapkan Masyumi yang dipimpin KH Hasyim Asyari. Jepang mewajibkan masyarakat untuk melakukan dakwah dan dakwah, dianjurkan untuk meningkatkan simpati masyarakat dengan menjentikkan ayat Alquran dan Hadis untuk meningkatkan produk yang disampaikan pada saat shalat Jumat.
Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang dideklarasikan dikalahkan oleh Sekutu. Kehadiran Jepang semakin melemah, bangsa Indonesia bersatu. Tiga hari kemudian, Bung Tomo selalu meneriakkan kebesaran Allah SWT dan menyatakan kemerdekaannya di hadapan masyarakat Surabaya. Ketika tokoh bangsa lain membutuhkan nasehatnya, film tersebut berakhir dengan meninggalnya KH Hasyim Asyari. Kematiannya menyebabkan kesedihan dan duka yang mendalam tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk semua siswa dan seluruh komunitas.
Dari film inilah kita bisa melihat peran Santri dalam melawan penjajah. Selain itu, meski melalui hal-hal kecil, menunjukkan perilaku dan tingkah laku Kiai yang demonstratif. Film ini juga mengajarkan kita tentang nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung yaitu: Pendidikan akhlak terhadap Allah dengan cara taqwa, ikhlas, tawakal, dan syukur. Pendidikan akhlak terhadap Rasulullah yaitu; mengikuti dan menaati rasul, mengucapkan shalawat dan salam. Film ini sangat cocok untuk di tonton oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa.
Komentar
Posting Komentar